Selasa, 05 Juni 2012

KEBAHAGIAAN


Judul atikel ini tentu semua setuju, kalau kita kaya harapannya adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sasaran yang manusiawi, karena setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan. Di jalan raya kita melihat orang banyak berlalu lalang menuju ke suatu tempat dengan berbagai macam kendaraan bahkan ada yang berjalan kaki beralaskan sandal jepit, semuanya kelihatan terburu-buru itu semua adalah proses untuk menuju pemenuhan kebutuhan hidup. Seperti telah diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Apabila kalian telah selesai melakukan Sholat maka bertebarlah kalian mencari rizki, dalam pandangan Islam memang kita disuruh untuk menjadi kaya, kita memang dilarang hidup miskin sebab kemiskinan dapat mendekatkan kita ke kekafiran. Pada zaman sekarang ini kita memang dituntut bekerja keras, memutar otak membaca peluang bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin sulit dengan penuh persaingan. Kenapa kita menyekolahkan anak? jawabannya adalah untuk mempersiapkan anak kearah kecerdasan, baik untuk kecerdasan otak (Intelegensi) , Kecerdasan emosi(Emotional), kecerdasan Sosial (Social) dan kecerdasan Agama (Relegi), semua tingkat kecerdasan tersebut akan sangat berpengaruh pada kehidupan pribadi anak dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia ini.
Bagaimana menjadi Orang Kaya yang bahagia
Saat menulis artikel ini, saya mencari Referensi tentang orang kaya bahagia, tapi tak satupun tulisan atau artikel yang memuat orang kaya itu bahagia benar-benar bahagia, karena banyaknya alasan. contohnya banyak orang kaya tapi justru karena kekayaannya dia harus menyewa Satpam untuk pengamanan diri dan keluarganya, ada yang dalam bepergian selalu ada body guard untuk melindungi keselematannya, ada yang pasang kamera pengintai disetiap pojok rumahnya untuk kenyamanan diri dan keluarganya, ada yang tidak bisa kemana-mana karena takut hartanya dirampok atau, dan seterusnya….pokoknya rasa aman semakin jauh dari kehidupannya. Mengapa saya menceritakan hal-hal yang terkait dengan Satpam, body guard, atau alat pengaman lainnya, tentu dan pasti karena tidak adanya rasa aman, kalau mereka rasa aman dan nyaman tidak mungkin mengadakan pengamanan diri atau keluarganya. Bandingkan dengan orang yang tidak memiliki banyak harta tapi dia tidak pernah merasa gelisah, terancam dan kesehariannya tenang-tenang saja. Begitu juga dengan orang yang secara nyata bahwa dia orang miskin tapi malah enak dan tidurnya amat nyenyak dan begitu bangun malah bersiul-siul dan santai menikmati hidup dipagi hari. Dari uraian saya tadi saya tidak menyinggung kebahagiaan tapi itulah yang saya perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana menurut anda ?
Nah pada tulisan selanjutnya saya mencoba mengutip Bahagia menurut para ilmuwan dan sedikit ada sangkut-pautnya dengan perkawinan.
Ternyata menurut hasil riset para ilmuwan tersebut perkawinan merupakan salah satu faktor pembuat bahagia, Ada 10 tips menjadi bahagia, yang sudah dibuktikan melalui riset. Kesepuluh kunci kebahagiaan tersebut diberikan di bawah ini, berikut skor yang menunjukkan tingkat kepentingan tiap kunci dalam mencapai kebahagiaan pribadi.
1.   Earn more money... up to a point (skor : 1/2)
Riset menunjukkan bahwa uang memang bisa membeli kebahagiaan, tapi hanya sampai batas tertentu saja. Setelah manusia bisa memenuhi kebutuhan utama - sandang, pangan, papan - 'daya beli' uang terhadap kebahagiaan menjadi menurun.
Dari riset ditemukan bahwa rata-rata orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin. Ada memang orang kaya yang tidak bahagia dan orang miskin yang bahagia, tapi seorang kaya yang tidak bahagia tetap lebih bahagia jika kaya dibanding jika miskin. Namun hubungan antara uang dan kebahagiaan tidak sesederhana itu. Ternyata setelah kebutuhan minimal terpenuhi, yang menjadi kunci 'kebahagiaan' adalah memiliki lebih daripada lingkungan sekitar atau memiliki status. Jadi bukan jumlah absolut uang yang dimiliki, tapi status yang bersangkutan dengan jumlah uang itulah yang membuat orang 'bahagia'. Gaji sejumlah X memberikan kepuasan lebih apabila jumlah tersebut termasuk dalam posisi atas dalam kelompok gaji di sebuah perusahaan, daripada jumlah yang sama apabila jumlah tersebut termasuk posisi bawah.
2.   Desire less! (skor: 2)
Ternyata nasehat para tetua kita untuk menahan diri sehingga kita merasa lebih bahagia ada benarnya. Melalui sejumlah kuesioner para ahli menemukan bahwa orang-orang yang cita-citanya berbeda terlalu jauh dengan kenyataan rata-rata merasa lebih tidak bahagia dibanding dengan mereka yang mengharapkan hidup yang tidak berbeda jauh dengan kenyataan.
Dalam beberapa pol para ahli menanyai sejumlah orang untuk menuliskan daftar barang-barang yang mereka butuhkan untuk hidup yang cukup baik. Ternyata setiap orang masih tetap mempunyai daftar 'wish list' untuk bisa bilang bahwa hidup mereka baik, walaupun mereka sudah punya barang-barang lebih dari orang lain.
3.      Don't worry if you aren't a genius (skor: 0)
Penelitian belum bisa menemukan korelasi antara kecerdasan dan kebahagiaan. Sepintas kelihatannya seharusnya orang yang pintar bisa lebih mudah merasa 'lebih' dari sekelilingnya dan lebih mudah mendapatkan uang sehingga lebih mudah merasa bahagia. Tapi ternyata kepintaran seseorang bukan faktor penjamin kebahagiaan. Bisa jadi orang pintar lebih sering berharap terlalu tinggi sehingga lebih mudah merasa kecewa dengan pencapaian yang kurang dari pengharapan.
Lalu dinyatakan pula bahwa ukuran kecerdasan yang digunakan selama ini mungkin salah. Seharusnya bukan kecerdasan otak semata yang diukur, tetapi juga kecerdasan sosial, yang bisa jadi lebih merupakan faktor penentu kebahagiaan.
4.      Make the most of your genes (skor: 5)
Setelah melakukan penelitian terhadap 4000 lebih kembar dewasa selama bertahun-tahun, seorang ilmuwan dari University of Minnesota menyimpulkan bahwa rasa nyaman dalam hidup kita setengahnya disebabkan oleh apa yang terjadi pada hidup kita saat itu, dan setengahnya lagi oleh 'modal' kebahagiaan, yang 90% nya ditentukan secara genetis. Jadi tingkat kebahagian kita pada dasarnya ditentukan oleh nenek-kakek kita, tetapi apakah kita akan lebih bahagia (lebih bersikap positif) dari itu, atau sebaliknya, ditentukan oleh lingkungan dan orang tua kita. Memang banyak penelitian menunjukkan bahwa kepribadian berhubungan dengan kebahagiaan. Mereka yang lebih ekstrovert cenderung lebih bahagia. Tapi tergantung lingkungan juga, karena di penjara orang-orang introvert cenderung lebih bahagia.
5.      Stop comparing your looks with others....... (skor: 1)
Menurut penelitian, ternyata orang-orang yang berwajah cantik dan tampan merasa lebih bahagia daripada orang pada umumnya. Mungkin ini karena kehidupan ini lebih ramah pada yang cantik atau tampan. Atau mungkin kecantikan adalah refleksi dari kesehatan dan orang yang lebih sehat biasanya lebih bahagia. Tapi menurut para ilmuwan, tidak perlu harus secantik Britney Spears untuk menjadi bahagia. Asalkan kita merasa diri berpenampilan menarik, kita bisa bahagia. Sayangnya menurut penelitian banyak sekali orang yang merasa minder, dan menilai dirinya lebih buruk daripada penilaian orang lain terhadapnya. Jadi untuk bahagia, sebaiknya jangan berpikir kita ini buruk rupa dan jangan membandingkan diri dengan para model!
6.      Make friends and value them........ (skor: 2 1/2)
Berdasarkan riset terhadap kaum miskin di Calcutta dan para mahasiswa kelas menengah, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan sosial punya andil besar dalam kebahagiaan seseorang. Semakin seseorang punya dukungan sosial dari teman dan keluarga, semakin ia bahagia. Oleh karena itu gelandangan di India lebih bahagia karena punya kelompok lebih besar, dibanding dengan gelandangan di Amerika.
7.      Get married.... (skor: 3)
Hasil riset sebuah tim peneliti dari Amerika terhadap laporan-laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa orang-orang yang menikah cenderung lebih bahagia dibandingkan dengan yang melajang. Apakah itu berarti perkawinan membawa kebahagiaan, ataukah umumnya orang-orang bahagialah yang menikah? Memang bisa dua-duanya, akan tetapi umumnya orang bisa menjadi lebih bahagia dengan menikah. Perkawinan memberikan efek positif yang lebih besar dibanding dengan hidup bersama tanpa menikah. Mungkin ini disebabkan karena perkawinan memberikan ketenangan dan keamanan yang lebih besar dibandingkan dengan hidup bersama tanpa ikatan.
8.      Find God (or a believe system).... (skor: 1 1/2)
Berbagai penelitian ilmiah yang dikumpulkan sebuah tim dari North Carolina menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai agama atau kepercayaan tertentu umumnya merasa lebih bahagia, atau setidaknya punya lebih banyak emosi positif, dibandingkan dengan yang tidak. Menurut mereka mempunyai kepercayaan menyebabkan orang merasa punya tujuan dalam hidup. Efek paling besar terlihat dalam masa-masa sulit. Mereka yang percaya sesuatu biasanya bisa lebih mudah menerima atau mengatasi kesulitan tersebut.
Sebuah kepercayaan juga sangat membantu mengatasi ketakutan terhadap kematian. Selain itu, agama dan kepercayaan biasanya juga membawa dukungan sosial dari kelompok. Tetapi yang lebih penting, kelompok ini juga memberikan kesempatan kepada individu untuk 'memberi' yang ternyata memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekedar menerima.
9.      Do someone a good turn... (skor: 1 1/2)
Beberapa studi menemukan bahwa ada korelasi antara tingkah laku altruistik dan kebahagiaan. Semakin banyak seseorang berderma, semakin bahagia dia. Belum jelas juga, apakah itu menunjukkan bahwa berderma dan berbaik hati membuat orang bahagia, ataukah orang bahagia lebih banyak berderma. Mungkin keduanya betul. Semakin bahagia seseorang semakin gampang memberi. Tetapi ilmuwan menyatakan bahwa pada akhirnya efek kumulatif dari tingkah laku yang dermawan membuat seseorang lebih bahagia.
10.  Grow old gracefully...... (skor: 1/2)
Ternyata menjadi tua itu tidak seburuk yang dikira orang. Menurut hasil beberapa riset, orang-orang tua punya emosi positif sebanyak orang muda, tetapi mereka punya lebih sedikit emosi negatif dibanding orang muda. Mengapa orang-orang tua lebih bahagia daripada orang muda? Kemungkinan semakin tua kita semakin belajar mengendalikan emosi dan memfokuskan diri pada hal-hal yang membuat bahagia. Atau orang tua sudah belajar untuk menjadi lebih realistis dalam bercita-cita.
Jadi begitulah, rahasia kebahagiaan menurut para ilmuwan seperti yang diungkap majalah The New Scientist. Kalau diurutkan menurut skor, maka orang bisa menjadi bahagia kalau: 1. punya 'gen bahagia', 2. menikah, 3. punya banyak teman, 4. tidak bercita-cita terlalu tinggi, 5. suka berbuat baik, 6. beragama atau berkepercayaan, 7. berpenampilan menarik, 8. berduit, 9. tua dan akhirnya 10. cerdas. Faktor-faktor ini bisa menjelaskan mengapa negara-negara yang penduduknya terbahagia di dunia (Nigeria, Meksiko dan Venezuela) bukanlah negara-negara maju dan makmur.
Yang Agak sedikit kontroversial menurutku adalah betapa pentingnya faktor genetis menurut para ilmuwan, ini berarti mereka yang nenek kakeknya memang susah tertawa kemungkinan besar akan susah tertawa pula. Mungkinkah?. Tapi jelas ini bukan merupakan patokan mati, lingkungan dan kultur jelas mempengaruhi faktor-faktor di atas. Jadi, apakah hidup lajang dari orang-orang “barat” yang tidak mengalami tekanan sosial karena kelajangannya lebih bahagia dibanding para lajang dari orang-orang “timur”? Mungkin, tapi bisa jadi tidak demikian, karena umumnya kultur timur lebih “hangat” dalam hubungan sosial dibanding kultur barat, maka yang di timur mungkin tetap lebih bahagia. Itu baru sebatas mungkin.
Hasil studi berikutnya adalah sebuah studi di Australia tanggal 3 October 2002 menyatakan bahwa perkawinan membuat pria dan wanita bahagia. Ini bertentangan dengan studi yang dilakukan pada tahun 1970 yang menyatakan bahwa wanita lebih bahagia ketika lajang daripada ketika menikah, karena tingkat stres yang bertambah ketika berkeluarga. Tetapi pada edisi 22 Desember 2003, BBC News menampilkan hasil studi dari Queen Mary University yang menyimpulkan bahwa pria menikah lebih punya resiko mengalami problem kesehatan dibandingkan dengan pria lajang. Sebaliknya wanita lajang lebih punya resiko mengalami gangguan kesehatan mental daripada wanita menikah!
Dari hasil studi-studi tersebut belum dapat mengungkap bagaimana sebenarnya “bahagia” dari sisi ilmiah. Maka studi-studi ilmiah ini pada akhirnya buatku hanya jadi tambahan pengetahuan saja. Sementara itu bisa kita Tanya pada diri kita masing-masing, bahagiakah aku?  

Tidak ada komentar: